Blackberry Q5 : Lonjakan besar si Ponsel Bisnis

Blackberry adalah ponsel bisnis yang terkenal di tahun 2000an. Dengan layanan push-email,  telepon,  sms, instant messengingnya yang paling terkenal,  yakni Blackberry Mesesenger,  tak ayal ponsel ini menjadi terkenal dan banyak dipakai baik oleh para pebisnis maupun beberapa figur publik. 

Tidak hanya itu, dengan dukungan docs to gonya ponsel ini memudahkan beberapa pekerja kantoran untuk mengedit atau membuat dokumen selama mereka jauh dari desktop atau laptop, meskipun untuk beberapa tipe kelas enrty levelnya fitur fitur dari aplikasi ini terkunci dan usernya harus merogoh kocek untuk upgrade menjadi pro. 

Kendati demikian,  kehadiran Blackberry berhasil membuat vendor-vendor lain berlomba-lomba merilis ponsel bisnis a la mereka sendiri. Dengan mengadopsi bentuk qwerty yang sama dan beberapa layanan yang serupa seperti push-email atau dukungan instant messeging dan aplikasi sosial media terintegrasi.  Lihat saja Nokia seri E atau N,  atau Samsung Valencia, Omni-Pro,  atau Sony Ericson M1i Aspen, produk-produk tersebut jelas mengandalkan fitur-fitur yang mirip dengan ponsel milik perusahaan RIM. 
Namun kepopuleran Blackberry harus redup setelah munculnya sistem operasi Android pada tahun 2010. Operating sistem ini meningkat tajam dan menguasai market place dengan cepat berkat user interfacenya yang simple dan layanan terintegrasinya yang lebih bervariasi. 

Sangat disayangkan bahwa RIM telat menyadari hal itu.  Akibatnya beberapa upgrade untuk ponsel-ponsel besutannya tak mampu menggaet pengguna-pengguna lama. 
Lalu bagaimana dengan Blackberry Q5 ini? 

Blackberry melakukan perombakan besar-besaran terhadap produk miliknya. Lewat BB Os10 yang digadang-gadang akan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna lamanya,  Blackberry menjanjikan kemampuan untuk menginstal aplikasi android pada ponsel miliknya. Selain itu, Blackberry membekali ponsel-ponselnya dengan spesifikasi yang mumpuni yakni,  RAM 2GB, Internal sampai 8gb bagi produk mid level (saya tak bisa bilang ada produk entry level untuk pasar Indonesia karena harganya saat itu terlalu tinggi). Persyaratan yang sangat mumpuni untuk menghindari gejala jam pasir atau red clock yang kerap muncul di produk-produk terdahulu. No more lag baby! 

 

User Interface 

Tidak ada tombol back,  tak ada pula tombol home atau task manager. Semuanya dioperasikan dengan swipe alias menggeser layar. 
Pada layar utama,  seperti yang bisa sobat lihat dari gambar di atas akan ada pop up notifikasi di samping tengah dan kamera di kanan bawah (jika tiada notifikasi karena hp sepi sobat akan menemukan ikon telepon untuk menuju menu panggilan dan tombol virtual) 
Untuk membuka kuncinya pun menggunakan metode swipe ke atas sedang untuk masuk ke menu sobat hanya perlu menggeser layar ke kanan. 
Yang mengerikan dari ponsel ini adalah tombol power dan kunci layarnya menyatu.  Jika kita membicarakan android, maka jelas jauh lebih bagus fungsi tombol tersebut di Os android (yang mana bila ditekan lebih dari satu detik muncul menu flight mode, matikan, dan lain-lain) 

Pasalnya,  di bb q5 ini untuk mematikan ponsel kita harus menekan tombol itu selama 3 detik sehingga bagi pengguna tertentu hal ini bisa menyebabkan tombol tersebut jebol dan masuk ke dalam. 
Blackbery tidak belajar dari kompetitornya terdahulu. 

Sebagai contoh Sony Ericsson dengan produknya M1i Aspen (saya mau mengulas produk ini nanti) . Produk yang dilabeli greenheart karena konon menggunakan komponen ramah lingkungan ini gagal di pasaran akibat uprgade os Windowsnya yang membingungan user dan lagi tombol power sama kunci layarnya serupa bb q5 ini. Aaaaargh Aspen  punya saya jebol gara-gara sulitnya mematikan ponsel karena harus menekan lebih dalam dari tekanan yang mengunci layar.  Bete banget kan? 

Oh,  iya jika sobat berada di layar utama dan menggeser layar ke kiri, sobat akan menemukan blackberryhub. 

Buruk! 

Blackberry menyatukan BBM, email,  pesan teks,  panggilan dan semua notifikasi di sini.  Akibatnya saat pertama masuk kita akan dibingungkan dengan bercampurnya pemberitahuan tersebut ke dalam satu baris memanjang ke bawah. Ini tentu akan membingungkan user pemula. 

Mungkin bagi Blackberry upgrade inilah yang terbaik (terlihat dari upgrade bbm untuk platform android juga menyematkan tampilan serupa yakni obrolan grup dan iklan muncul di chat box utama T_T please blackberry this is annoying) 

Ikon-ikon menunya dirancang lebih menarik dan lembut sehingga ponsel ini tidak tampak kaku dan terasa mewah. 
Tapi task managernya… 
 

Task managernya berada di layar utama?  Wtf?  This is really bad idea! 

Ini merusak semua tatanan yang sudah sangat sangat cantik.  Bayangkan sobat lagi asyik chating terus sobat swipe buat buka aplikasi lain,  terus sobat kembali ke halaman utama dan tampilan ponsel berupa kotak-kotak aplikasi yang belum ditutup? 

Bagaimana perasaan sobat atau mungkin kawan sobat saat melihat hal ini?  
Aneh bukan? 

Masak iya, chatingan bbm kita muncul di layar utama lengkap dengan layar freeze dan kisi-kisi yang kita buka terakhir. 
Gak benget kalau dilihat orang -_-

Proses Booting

Seperti yang dikatakan banyak orang, bahwa Blackbery tidak banyak belajar dari produk-produknya terdahulu.  Caranya memahami perkembangan pasar sungguh telat dan tidak tepat. Salah satunya untuk proses bootingnya ini. Proser booting OS10 ini tak lebih baik dari Os sebelumnya (cuma ganti loading bar aja dari lurus ke kotak). Masih membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan aplikasi. Belum lagi weeping (Format ulang ponsel atau reset ke pengaturan default untuk OS 10 Blackberry) membutuhkan waktu kurang lebih 30menit bahkan ada yang dua hari,  oh my good. RAM dan ROM yang besar tak mampu memperbaiki masalah ini. 

Bandingkan dengan android yang tak terlalu menguras banyak waktu baik untuk proses booting maupun penghapusan data-data ke setingan default.  Hal ini jelas mengganggu. 

Android on Bb Os10


Hal paling menyenangkan dari OS 10 ini adalah kemampuannya untuk menginstal dan menjalankan aplikasi-aplikasi android. Blackberry mengkalim 99% aplikasi android akan mampu dijalankan di os besutannya ink. Faktanya? 

Untuk menginstal playstore sebagai market place utama android tidaklah mudah. Butuh banyak sekali aplikasi pendukung seperti Bbid google, google hukum, layanan playservice,  dan playstore itu sendiri (cara pasang playstore akan saya bahas di lain waktu) 

Tetapi tenang saja,  untuk menjajal aplikasi aplikasi android,  Blackberry telah menyediakan market khusus bernama apstore.  Bekerja sama dengan amazon, Blackberry berhasil menjaring aplikasi aplikasi andalan android seperti Uc web, goodreads,  blogger (yang satu ini tidak works jika tidak ada google service,  nanti saya bahas di lain waktu) dan banyak lagi. 

Media sosial teringrasi

Blackberry dikenal dengan integrasi layanan media sosial dan aplikasi chatingnya.  Tetapi di Bb Os 10 ini sobat tak perlu lagi berlangganan paket-paket bundling untuk mengakses fitur-fitur tersebut. 
Kalau di os 7 ke bawah sobat harus daftar paket sosial, chating,  bisnis,  atau fullBIS,  di os 10 ini sobat hanya perlu kuota biasa layaknya android. Asyik kan? 

Jadi tak perlu lagi merogoh kocek terlalu dalam untuk menghidupi ponsel sobat.  Yeay!  Give him a banana!  

Tetapi,  ada tapinya lhoh. Saat sobat mengklik aplikasi facebook,  ternyata kita akan dibawa ke browser dan memasuki facebook versi browser ponsel yang mana artinya aplikasi tersebut hanyalah sebuah shortcut untuk masuk ke situs facebook melalui browser. 

Lihat garis hitam pada gambar di bawah ini. 

Agak aneh yah mengingat biasanya Blackberry memiliki aplikasi facebook for blackberry di os sebelum ini. Menghilangnya fitur ini membuat pengguna os10 jadi seakan turun gengsi selain tak bisa menyematkan update via gadget yang dikenakannya,  thoh juga memasuki situs lewat browser ponsel membuat blackberry tampak seperti ponsel feature biasa.  Tidak ada keistimewaan kecuali memang tampilan facebooknya serupa tampilan situs facebook di browser android. Tetapi apa hal tersebut memberi nilai lebih pada ponsel ini? Kayaknya tidak. 

Docs to go


Tak lengkap rasanya jika kita tak membahas aplikasi office yang terbenam di ponsel Blackberry ini. Pasalnya sejak semula Blackberry memang dikenal sebagai alternatif bagi orang-orang yang jenuh dan ingin mencoba ponsel lain selain ponsel berformat PDA. 

Tidak ada fitur yang dikunci (alhamdulillah sesuatu).  Saya pernah menjajal beberapa ponsel mid level pabrikan Blackberry dan fitur create documentnya dikunci (mengesalkan) terpaksalah saya harus nyari keylogger beserta sandinya (wkwkwk kreatif sama kere itu beda tipis) 

Tampilannya juga lebih asyik. Menu-menu ada di bawah dan di samping.  Untuk mengetik dan mengedit jauh lebih mudah dan menyenangkan. 

Wait,  kemarin menu editornya di bawah lhoh 😑 ternyata ini berubah sejak negara api eh osnya saya upgrade ke 10.3
Jadi seperti yang sobat lihat menu editnya ada di atas dan sangat sederhana. 


Performa Baterai

Dengan kapasitas sebesar 2180 Blackberry Q5 jauh lebih awet ketimbang ponsel ponselnya terdahulu. Saya sendiri merasa puas karena dengan aktif di sosial media, browsing, chating, dan lain-lain baterainya mamlu bertahan dari pagi sampai sore. Jika dibandingkan dengan kompetitornya di kelas yang sama maka performa baterai Q5 ini lebih unggul.  Sayangnya tidak seperti kakaknya (Q10)  yang menggunakan removable battery Q5 ini memilih sistem built-in alias baterai tanam. Jadi berhati-hatilah dalam mencharge dan merawatnya. 


Permasalahan-permasalahan klasik

Sejak dulu ponsel-ponsel pintar dengan peminat yang lumayan banyak selalu memiliki cara untuk menjangkau calon pembelinya. Tak hanya melalui distributor resmi,  ponsel-ponsel tersebut juga banyak beredar melalui distributor tak resmi bahkan black market. 

Akibatnya alih-alih kita mendapatkan ponsel dengan standar yang telah sesuai dengan pasar negeri kita,  kita justru mendapatkan produk di bawah standar. Contohnya adalah series-series blackberry yang berbeda-beda banyak beredar di pasaran.  Ada SQN 1001, SQN 1002, dan SQN 1003, yang mana beberapa ponsel tersebut memiliki spesifikasi sedikit berbeda yakni ada yang 4g dan ada yang belum. Yang parah beberapa di antaranya tidak support provider tertentu karena perbedaan band. Nah lhoh! 
Oia,  Bb Q5 ini sendiri menggunakan metode SIM ejector,  yakni harus menekan SIMcard untuk mengambil atau memasanganya (bagian dalamnya ada sistem pejal). Terasa familiar di ponsel jadul yah?  Oh gak juga sih,  biasanya ejector ini ada untuk memori card. Produk Nokia menyebutnya hotswap pada tahun-tahun yang lalu.  Mengingat metode ini rawan gesekan antara SIMcard dengan kuningan connectornya itu jadi saya katakan hal ini buruk. Padahal di tahun yang sama ponsel lain sudah menggunakan metode tray alias tusuk tempat SIMcardnya. Blackberry you dont know what we need 😢

Permasalahan lain yang kerap timbul pada ponsel-ponsel blackbery adalah kamera error dengan notif : kamera tak bisa dimulai.  Hal ini terjadi karena ponsel pintar mengintegrasikan kamera dengan banyak aplikasi seperti barcode scanner, snapfoto dan lain lain,  sehingga kinerjanya makin terasa diganduli. Sila sobat cek room diskusi mengenai os10 bahkan tak ada solusi yang pasti mengenai permasalahan ini. Biasanya gejala ini muncul karena update Os via OTA,  itu jika permasalahannya software.  Tapi jika masalahnya hardware biasanya karena konektor kamera agak renggang. Beberapa kasus mengatakan masalah mereka selesai setelah bulatan kamera ditekan beberapa kali.  Namun kasus-kasus lainnya tidaklah sama.  Ada beberapa diskusi dengan masalah serupa tidak menemukan solusi sama sekali baik di forum crackberry maupun forum forum lain yang membahas masalah ini. Dan problem dianggap solved di thread tersebut! *tepok jidat*

Demikianlah review yang ingin saya tulis. Tak terasa panjangnya lumayan juga. Review ini berdasarkan pengalaman saya menggunakan gadget ini selama satu bulan. Untuk sobat yang ingin gadgetnya diulas silakan kirim ke saya (ditabok rameh-rameh)  
Selanjutnya saya akan mengulas produk produk yang menurut saya memiliki keunikan tersendiri. Produk apa saja? 
Yang pastinya gadget yang harganya ramah di kantong saya. 
Terimakasih sudah membaca dan salam gadgetmania.